Senin, 26 November 2012

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL DAN BUDAYA



MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL DAN BUDAYA







            D
I
S
U
S
U
N

OLEH

SITI HARDIANA
2SA01
16611806





 BAB I
PENDAHULUAN

1.1.     Latar Belakang


Manusia sebagai makhluk yang berbudaya tidak lain adalah makhluk yang senantiasa mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang membahagiakan hidup manusia itu hakikatnya sesuatu yang baik, benar dan adil, maka hanya manusia yang selalu berusaha menciptakan kebaikan, kebenaran dan keadilan sajalah yang berhak menyandang gelar manusia berbudaya.


Pendidikan sebagai hasil kebudayaan haruslah dipandang sebagai motivator terwujudnya kebudayaan yang tinggi. Selain itu pendidikan haruslah memberikan kontribusi terhadap kebudayaan, agar kebudayaan yang dihasilkan memberi nilai manfaat bagi manusia itu sendiri khususnya maupun bagi bangsa pada umumnya.

Dengan demikian dapat kita katakan bahwa kualitas manusia pada suatu negara akan menentukan kualitas kebudayaan dari suatu negara tersebut, begitu pula pendidikan yang tinggi akan menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena kebudayaan adalah hasil dari pendidikan suatu bangsa.


1.2.     Tujuan

                Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
  • Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar
  • Untuk mengetahui mengapa manusia disebut sebagai makhluk yang berbudaya
  • Untuk mengetahui perwujudan masyarakat Indonesia sebagai makhluk yang berbudaya

1.3.     Rumusan Masalah  
                                             
Dengan memperhatikan latar belakang tersebut, agar dalam penulisan ini penulis memperoleh hasil yang diinginkan, maka  penulis mengemukakan beberapa rumusan masalah. Rumusan masalah itu adalah:
1.         Mengapa manusia disebut sebagai makhluk yang berbudaya?
2.         Apakah definisi manusia dan budaya?
3.        Bagaimanakah perwujudan masyarakat Indonesia sebagai makhluk yang berbudaya ?

 
BAB II
PEMBAHASAN


2.1        Manusia sebagai Makhluk yang Berbudaya

Manusia disebut sebagai makhluk yang berbudaya tidak lain adalah makhluk yang senantiasa mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang membahagiakan hidup manusia itu hakikatnya sesuatu yang baik, benar dan adil, maka hanya manusia yang selalu berusaha menciptakan kebaikan, kebenaran dan keadilan sajalah yang berhak menyandang gelar manusia berbudaya.
Manusia juga akan mulai berpikir tentang bagaimana caranya menggunakan hewan atau binatang untuk lebih memudahkan kerja manusia dan menambah hasil usahannya dalam kaitannya untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Manusia sangat mempunyai hasrat yang tinggi apabila dibandingkan dengan makhluk hidup yang lain. Hasrat untuk selalu menambah hasil usahanya guna mempermudah lagi perjuangan hidupnya menimbulkan perekonomian dalam lingkungan kerja sama yang teratur. Hasrat disertai rasa keindahan menimbulkan kesenian. Hasrat akan mengatur kedudukannya dalam alam sekitarnya, dalam menghadapai tenaga-tenaga alam yang beraneka ragam bentuknya dan gaib, menimbulkan kepercayaan dan keagamaan. Hasrat manusia yang selalu ingin tahu tentang segala sesuatu disekitarnya menimbulkan ilmu pengetahuan.

Ada hakekatnya kebudayaan mempunyai dua segi, bagian yang tidak dapat dilepaskan hubungannya satu sama lain yaitu segi kebendaan dan segi kerohanian. Segi kebendaan yaitu meliputi segala benda buatan manusia sebagai perwujudan dari akalnya, serta bisa diraba. Segi kerohanian terdiri atas alam pikiran dan kumpulan perasaan yang tersusun teratur. Keduanya tidak bisa diraba.



2.2      Pengertian Manusia dan Budaya
            Manusia (Human)

Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamaliayang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalamagama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakatmajemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.

·      Manusia sebagai makhluk raga dan jiwa
Atas dasar tinjauan manusia sebagai makhluk monodualisme, maka pendidikan akan menyelaraskan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan baik yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan jasmaniah maupun kebutuhan rohaniah dipenuhinya secara selaras dan seimbang. Selaras dan seimbang dalam arti kebutuhan-kebutuhan jasmaniah/hewaniah dipenuhi dengan pertimbangan-pertimbangan benar dan salah, indah dan tidak indah, baik dan buruk. Dengan demikian pemenuhan kebutuhan ini dilaksanakan atas dasar pertimbangan-pertimbangan tersebut sehingga diharapkan orang dapat terpenuhi kebutuhan jasmaniahnya tanpa meninggalkan pertimbangan-pertimbangan baik atau buruknya dalam memperoleh sesuatu untuk kepentingan jasmaniah tersebut.

·      Manusia sebagai makhluk individu dan sosial
Sebagai makhluk individu dan sosial manusia hendaknya saling menghargai dan menghormati, saling memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini individu hendaknya diperlakukan oleh kelompok sebagaimana dia memperlakukan kelompoknya.
Pendidikan akan memberikan petunjuk/pengarahan agar di dalam hidup manusia perlu dipenuhi kebutuhan individunya tanpa mengabaikan kebutuhan orang lain. Sebaliknya kebutuhan kelompok dipenuhi tanpa menelantarkan dirinya sendiri. Di samping itu di dalam hubungannya dengan orang lain (kelompok) individu adalah punya hak dan tanggung jawab yang harus diakui oleh kelompoknya demikian juga kelompok yang punya hak dan tanggung jawab yang harus diakui oleh individu. Jadi kebutuhan-kebutuhan itu ataupun perlakuan-perlakuan itu terpenuhi secara selaras dan seimbang baik individu maupun kelompoknya.

• Ditinjau dari monodualisme pribadi berdiri sendiri dan makhluk ciptaan Tuhan
Pendidikan akan menyadarkan kepada manusia bahwa apa-apa yang direncanakan ataupun yang dicita-citakan tidak sepenuhnya berkat usaha manusia itu sendiri tetapi Tuhan ikut menentukannya. Dengan demikian maka pendidikan akan mendorong manusia dalam berusaha untuk mencapai sesuatu yang disertai dengan permohonan kepada Tuhan. Jadi manusia harus taqwa pada Tuhan.
Dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa manusia merupakan suatu kesatuan dari tujuh unsur/ dimensi yang merupakan kesatuan yang saling terkait dan bekerja sama dalam mencapai tujuan (hidup). Ketujuh unsur tersebut dapat dirunut sebagai berikut: Manusia sebagai makhluk yang berdimensi raga dan berdimensi jiwa. Jiwa terdiri dari tiga hal, yaitu cipta, rasa, dan karsa. Manusia sebagai makhluk yang berdimensi individu dan berdimensi sosial. Manusia sebagai makhluk yang berdimensi pribadi dan makhluk Tuhan. Ketujuh dimensi tersebut disebut sebagai dimensi hakekat manusia.

Kebudayaan (Culture)
Kebudayaan selalu dimiliki oleh setiap masyarakat, hanya saja ada suatu masyarakat yang lebih baik perkembangan kebudayaannya dari pada masyarakat lainnya untuk memenuhi segala kebutuhan masyarakatnya. Pengertian kebudayaan banyak sekali dikemukakan oleh para ahli. Salah satunya dikemukakan oleh Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, yang merumuskan bahwa kebudayaan adalah semua hasil dari karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan, yang diperlukan manusia untuk menguasa alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk kepntingan masyarakat.
Atas dasar itulah para ahli mengemukakan adanya unsur kebudayaan yang umumnya dibagi menjadi 7 unsur, yaitu :
1. Unsur religius;
2. Sistem kemasyarakatan;
3. Sistem peralatan;
4. Sistem mata pencaharian hidup;
5. Sitem bahasa;
6. Sistem pengetahuan;
7. Kesenian.
Berdasarkan unsur diatas, maka kebudayaan paling sedikit memiliki 3 wujud, antara lain:
·         Wujud sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, norma, peraturan dan sejenisnya. Ini merupakan wujud ideal kebudayaan. Sifatnya abstrak, lokasinya dalam pikiran masyarakat dimana kebudayaan itu hidup.
·         Kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
·         Kebudayaan sebagai benda hasil karya manusia.




Menurut JJ. Hogman dalam bukunya “The World of Man” membagi budaya dalam tiga wujud yaitu: ideas, activities, dan artifacts. Sedangkan Koencaraningrat, dalam buku “Pengantar Antropologi” menggolongkan wujud budaya menjadi:
·        Sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya
·        Sebagai suatu kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
·        Sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Berdasarkan bentuknya, budaya dapat dibagi menjadi 2 yaitu budaya yang bersifat abstrak dan budaya yang bersifat konkret atau nyata:
  • Budaya yang bersifat abstrak adalah budaya yang tidak dapat dilihat secara kasat mata karena bearada dalam pemikiran manusia. Contohnya yaitu ide, gagasan, cita-cita dan lain sebagainya.
  • Budaya yang bersifat konkret adalah budaya yang berpola dari tindakan atau peraturan dan aktivitas manusia di dalam masyarakat yang dapat diraba, dilihat, diamati, disimpan atau diphoto. Koencaraningrat menyebutkan sifat budaya dengan sistem sosial dan fisik, yang terdiri atas: perilaku, bahasa dan materi.


Perilaku
Perilaku adalah cara bertindak atau bertingkah laku dalam situasi tertentu. Setiap perilaku manusia dalam masyarakat harus mengikuti pola-pola perilaku (pattern of behavior) masyarakatnya.

Bahasa
Bahasa adalah sebuah sistem simbol-simbol yang dibunyikan dengan suara (vokal) dan ditangkap dengan telinga (auditory). Ada pula yang berpendapat bahwa bahasa adalah suatu perjanjian tidak tertulis yang telah kita tandatangani dan berlaku seumur hidup. Dengan bahasa, manusia dapat berkomunikasi satu sama lain sehingga manusia dapat saling bertukar pikiran sehingga hasil dari pertukaran tersebut adalah budaya yang semakin kaya dan kebudayaan yang berkembang dan semakin maju seiring dengan perkembangan zaman.
Materi
Budaya materi adalah hasil dari aktivitas atau perbuatan manusia. Bentuk materi misalnya pakaian, perumahan, kesenian, alat-alat rumah tangga, senjata, alat produksi, dan alat transportasi.

Substansi utama budaya adalah sistem pengetahuan, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi, dan etos kebudayaan. Tiga unsur yang terpenting adalah sistem pengetahuan, nilai, dan pandangan hidup.



BAB III
PENUTUP

3.1     Kesimpulan

Setelah memperhatikan isi dalam pembahasan di atas, maka dapat penulis tarik kesimpulan sebagai berikut:
           
Manusia Sebagai Makhluk Berbudaya adalah Manusia yang diciptakan untuk menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai makhluk Tuhan. Manusia harus menguasai segala sesuatu yang berhubungan dengan kepemimpinannya di muka bumi disamping tanggung jawab dan etika moral harus dimiliki, menciptakan nilai kebaikan, kebenaran, keadilan dan tanggung jawab agar bermakna bagi kemanusiaan dan lingkungan sekitarnya.

Selain mampunyai sebagaimanaa makhluk hidup lainnya, manusia juga mempunyai akal yang dapat memperhitungkan tindakannya melalui proses belajar yang terus-menerus. Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok atau seorang individu.
Kualitas manusia pada suatu negara akan menentukan kualitas kebudayaan dari suatu negara tersebut, begitu pula pendidikan yang tinggi akan menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena kebudayaan adalah hasil dari pendidikan suatu bangsa.



 Berdasarkan kesimpulan di atas ada beberapa saran yang dapat diberikan menyangkut dengan topik Manusia Sebagai Makhluk yang Berbudaya, antara lain:

·         Sebagai manusia yang diberikan akal dan kemampuan berpikir oleh Tuhan, seharusnya kita bisa memanfaatkan dan melestarikan budaya-budaya yang ada di negara kita.

·         Sebagai negara yang paling kaya akan budayanya, kita harus menjaga budaya-budaya yang sudah ada di Indonesia, jangan sampai di klaim oleh negara lain.



DAFTAR PUSTAKA


http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia



Minggu, 01 Juli 2012

TUGAS SOFTSKILL KEPARIWISATAAN


KEPARIWISATAAN

         D
I
S
U
S
U
N
OLEH

SITI HARDIANA
16611806
1SA02

Dosen Pengasuh : Hendro Firmawan
Judul : “Pengembangan Kepariwisataan” 






KOTA TANGERANG








MARS KOTA TANGERANG
Padukan irama dengan derap langkah
Satu dalam persepsi
Tumbuh kembangkan semua potensi
Jadi sumber daya berguna
Dibawah Undang-Undang ’45 dan Pancasila

Warga Kota Tangerang siap membangun bangsa
Nuansa Agama tetap lekat memberi makna
Dalam tatanan kota industri dan perdagangan


Memiliki daya saing yang nyata
Penyangga ibu kota
Bersih, Hijau, Indah, Aman, Sejahtera tetap terjaga
Bhakti Karya Adi Kerta Rahardja.





Kota tangerang merupakan salah satu kota yang berada di jawa barat. Banyak penduduk yang tinggal disana untuk mencari segenggam berlian. Kota tangerang penghasil industri. Banyak tempat pariwisata yang dimiliki kota tangerang. Kota tangerang telah mendapatkan piala adipura.
Kekuasaan pemerintahan kota tangerang sekarang dijabat oleh walikota Drs. H. Wahidin Halim M.Si dan wakilnya Arief R. Wismansyah. Kota tangerang berdiri sejak tahun 28 Februari 1993.

 Kota Tangerang terdiri atas 13 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah kelurahan. Dahulu Tangerang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Tangerang, kemudian ditingkatkan statusnya menjadi kota administratif.


Kota tangerang memiliki 13 kecamatan diantaranya :
1.      Karang tengah
2.      Karawaci
3.      Pinang
4.      Benda
5.      Cipondoh
6.      Ciledug
7.      Cibodas
8.      Batu ceper
9.      Jati uwung
10.  Larangan
11.  Tangerang
12.  Serang
13.  Lebak




Tempat Wisata Kota Tangerang

     Beberapa tempat wisata, seni dan budaya yang dimiliki Kota Tangerang adalah sebagai berikut :

GEDUNG PUSAT PEMERINTAHAN
Dibangun di atas tanah seluas 49 hektar dengan luas halaman 6.612,24 m2 terdiri dari lima lantai dan menghabiskan biaya sebesar Rp. 60 Milyar dalam 3 tahun anggaran, gedung ini dirancang oleh Ir. Slamet Wirasonjaya.




MASJID RAYA AL-A’ZHOM
Dibangun di atas tanah seluas 2,25 hektar dengan luas bangunan 5.775 m2 terdiri dari lantai bawah 4.845,08 m2 dan lantai atas 909,92 m2 berkapasitas 15.000 jamaah, dirancang oleh Ir. Slamet Wirasonjaya menelan biaya sebesar Rp. 28,3 Milyar. Masjid ini dapat berfungsi sebagai tempat Sholat Wajib, Sholat Sunah, Sholat Jum’at dan Sholat Ied juga sebagai pusat penyiaran pengkajian dan informasi Agama Islam dengan majelis ta’lim dan kegiatan kuliah subuh serta pusat kegiatan sosial umat Islam.
                                                                                

                                                                           



MESJID KALI PASIR
Tahun 1700 : Dibangun oleh Tumenggung   Pamitwidjaya   dari Kuripan (11 Agustus) Tahun 1904 : Diurus dan diperbaiki serta dibangun menara oleh RD Jasin Judanegara Putra dari Nyi.   RD. Djamrut keturunan dari Tumenggung   Pamitwidjaya dari Kuripan.
Tahun 1918 : Diubah bagian dalamnya oleh RD. Jasin Judanegara, M. Muhibi. H. Abdul Kadir   Banjar dan Masjid merupakan Masjid tertua di Kota Tangerang.


MESJID PINTU SERIBU
Masjid Pintu Seribu “Nurul Yaqin”, terletak di Kampung Bayur, Kelurahan Periuk Jaya, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang. Merupakan Masjid yang mempunyai keunikan tersendiri, yaitu dengan memiliki seribu pintu.





VIHARA/KELENTENG
Kedatangan orang Cina, pertama kali ke Tangerang belum diketahui secara pasti. Dalam kitab sejarah Sunda yang berjudul “Tina Layang Parahyangan” (Catalan Dari Parahyangan) disebut tentang kedatangan orang Tionghoa ke daerah Tangerang, di muara Sungai Cisadane yang sekarang diberi nama Teluk Naga pada tahun 1407. Gelombang kedua kedatangan orang Tionghoa ke Tangerang diperkirakan terjadi setelah peristiwa pengusiran orang Tionghoa di Batavia pada tahun 1740, VOC mengirimkan orang-orang Tionghoa ke daerah Tangerang, disekitar Tegal Pasir (Kali Pasir), Belanda mendirikan perkampungan Tionghoa yang dikenal dengan nama Petak Sembilan yang menjadi pusat perdagangan terletak disebelah timur Sungai Cisadane, daerah Pasir Lama sekarang. Para penghuni perkampungan Petak Sembilan secara gotong royong mendirikan sebuah kelenteng pada tahun 1684 yang diberi nama Boen Tek Bio dan berdirilah kelenteng-kelenteng lainnya seperti Boen San Bio pada tahun 1689 yang merupakan tempat beribadat Umat Budha dan Konghucu. Kelenteng tersebut merupakan kelenteng tertua di Wilayah Banten dan terkenal dengan tradisi pecunnya.









BENDUNGAN PINTU AIR SEPULUH
Bendungan ini dibangun tahun 1928 dan mulai dioperasikan tahun 1932 di masa penjajahan Belanda. Bendungan tersebut mampu mengairi kurang lebih 1.500 Ha sawah yang berada di daerah Kota dan Kabupaten Tangerang. Bendungan ini lebih dikenal dengan sebutan “Bendungan Pintu Air Sepuluh ” atau “Sangego”.




SITU CIPONDOH
Obyek wisata ini terletak 10 km dari pusat kota, berada di Wilayah Kecamatan Cipondoh. Selain sebagai obyek wisata, Situ ini juga berfungsi untuk konservasi air. Aktivitas wisata yang dapat dilakukan adalah wisata air, memancing ikan, menikmati panorama Situ dengan latar belakang pemandangan alam yang indah.


                                                                               



 Beberapa Jenis-Jenis Kesenian Yang Dimiliki Kota Tangerang Yakni :
1.      Tari cokek
2.      Tari saman
3.      Debus
4.      Dok-dok lojor
5.      Kuda lumping
6.      Rebana

Tak kalah menariknya, kota tangerang juga memiliki makanan khas sendiri yakni :
1.      Laksa
2.      Sayur besan
3.      Pindang ikan bandeng
4.      Emping
5.      Kecap benteng
6.      Dodol


   
        Dampak yang masih belum terealisasikan hingga sekarang yakni, kurangnya armada sampah :

Pemerintah Kota Tangerang Provinsi  Banten saat ini kekurangan armada pengangkut sampah sehingga perlu adanya penambahan kendaraan tersebut.

"Kita masih kekurangan angkutan sampah dan pemerintah daerah setiap tahun akan mengalokasikan kendaraan itu," kata Wakil Wali Kota Tangerang H Arief R Wismansyah di Kota Tangerang, Kamis.

Ia mengatakan, jumlah kendaraan yang ada saat ini tercatat 126 truk, 13 kijang pick up dan tiga motor.

Kendaraan sebanyak itu, kata dia, mengangkut volume sampah sebanyak 3.005 meter kubik per hari.

Untuk mengatasi penumpukan sampah di sejumlah tempat pembuangan sampah (TPS), tentu diperlukan adanya penambahan angkutan.

Wakil Wali Kota mengimbau masyarakat Kota Tangerang agar menjaga kebersihan, keindahan dan kenyamanan kota sebab Kota Tangerang tahun 2011 meraih piala penghargaan Adipura.

"Kita harus mempertahankan piala Adipura dengan menjaga kebersihan, keindahan dan kenyamanan. Itu merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat," ujarnya.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tangerang Maryoris Namaga mengatakan, pemerintah daerah tahun 2012 akan menambah sebanyak 25 armada truk pengangkut sampah.

Selain itu, juga melakukan penataan tempat pembuangan akhir (TPA) Rawa Kucing.



 Program Prioritas
Untuk mewujudkan visi dan misi dengan strategi pokok di atas, Pembangunan Kota Tangerang untuk sepuluh tahun ke depan akan dilaksanakan dengan sepuluh (10)  Program prioritas sebagai berikut :
  1. Program Peningkatan Kehidupan Sosial dan Kemasyarakatan
  2. Program Penataan Kota Berwawasan Lingkungan
  3. Program Pembangunan Fasilitas Umum dan Sosial
  4. Program Penataan Sistem Ttransportasi Terpadu
  5. Program Pelayanan Dasar Pendidikan
  6. Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat
  7. Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
  8. Program Pendidikan Berorientasi Dunia Usaha
  9. Program Pembangunan Ekonomi Rakyat
  10. Program Pemerintahan Yang Baik dan Bersih


J Semoga dengan diadakannya program prioritas diatas, kota tangerang dapat mewujudkannya. J




Daftar Pustaka :
Buku mengenai sejarah kota tangerang